Laman

Senin, 08 April 2013

Golongan Darah Manusia


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Defenisi Darah
Suatu jaringan tubuh yang terdapat dalam pembuluh darah yang warnanya merah. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya O2 dan CO2 didalamnya. darah yang mengandung CO2 warnanya merah tua. Adanya O2 dalam darah diambil  dengan jalan bernapas, dan zat ini sangat berguna pada peristiwa pembakaran / metabolisme dalam tubuh.
Darah selamanya beredar dalam tubuh oleh karena adanya kerja atau pompa jantung dan selama darah berada dalam pembuluh darah maka akan tetapi kalau ia keluar dari pembuluhnya maka akan tetap encer, tapi kalau ia keluar dari pembuluhnya maka ia akan menjadi beku.
Pemberian ini dapat dicegah dengan jalan mencampurkan kedalam darah tersebut sedikit obat anti pembekuan /sitras natrikas. Dan keadaan ini sangat berguna apabila darah tersebut diperlukan untuk transfusi darah.
Seperti tumbuh – tumbuhan dan binatang, tubuh kita terdiri dari sel – sel. Jumlah sel – sel itu banyak sekali. Tidak dapat dihitung karena banyaknya. Bentuk sel – sel itu kita harus mempergunakan mikroskop. Sepotong daging yang besar besarnya 3 cm persegi terdiri dari 50.000 sel lebih.
Sel – sel itu hidup. Karena hidup maka sel – sel itu membutuhkan makanan dan dapat berkembang biak. Makanan berasal dari makanan yang kita makan setiap hari. Pembiakan sel – sel menyebabkan tubuh anak – anak menjadi besar. Jumlah sel – sel yang ada ditubuhnya makin lama makin  banyak. Dengan demikian anak – anak tumbuh menjadi dewasa.
Salah satu jaringan yang sangat penting bagi hidup kita ialah darah. Hidup atau mati kita ditentukan adanya darah dalam tubuh kita. Jumlah seluruh darah kita kurang lebih 6 persen dari seluruh berat badan. Angka nisbi itu akan lebih kecil pada orang gemuk dan lebih besar pada orang kurus.
Mungkin ada yang mengira, darah sebagian terbesar terdiri dari air. Hal itu disebabkan karena darah merupakan benda cairan. Sebetulnya darah hanya mengandung sedikit lebih banyak air dari pada bagian tubuh yang lunak lainnya. 75 persen dari otot – otot kita berdiri dari air. Hati mengandung 70 persen air. Buah pinggang dan otak mengandung air lebih kurang 80 persen. Sedangkan darah yang cair mengandung hanya 80 persen air juga.
Air larut bukanlah air murni, banyak zat – zat yang larut dalamnya. Jumlahnya kira – kira 3 persen. Yang terbanyak ialah garam. Darahpun juga mengandung garan dan zat – zat lainnya. Jika dikeluarkan sel – sel hidup yang ada dalam darah, sisanya merupakan cairan yang bernama plasma. Plasma darah 90 – 92 persennya terdiri dari air. Sedangkan air laut kurang lebih 97 persennya.
Fungsi darah diantaranya :
1.    Sebagai alat pengangkut yaitu :
a.    Mengambil O2 / zat pembakaran dari paru – paru untuk diedarkan keseluruh jaringan tubuh.
b.    Mengangkat CO2 dan jaringan untuk dikeluarkan melalui paru – paru.
c.    Mengambil zat – zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan dibagikan keseluruh jaringan  /alat tubuh tubuh.
d.   Mengangkat / mengeluarkan zat – zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal.
2.    Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantaraan leukosit, antibodi / zat – zat anti racun.
3.    Menyebarkan panas keseluruh tubuh.


1.2 Tujuan

1.2.1  Tujuan Umum
Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu menjelaskan genetika golongan darah sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan yang dapat digunakan untuk memberikan pendidikan dimasa depannya.

1.2.2 Tujuan Khusus
·      Untuk mengetahui pengertian darah dan fungsinya
·      Untuk mengetahui keanekaragaman sistem golongan darah
·      Dapat mengetahui bagaimana kecocokan golongan darah
·      Serta mengetahui bagaimana pewarisannya



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Darah
Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transpor berbagai bahan serta fungsi homeostasis.
Penggolongan darah sebagai suatu jaringan didasarkan atas defenisi jaringan, yaitu sekelompok sel atau beberapa jenis sel, yang mempunyai bentuk yang sama dan menjalankan fungsi tertentu. Hanya saja, berbeda dengan jaringan lain, sel – sel yang terdapat dalam darah dan dinamai sebagai sel – sel darah tidaklah terikat satu sama lain membentuk suatu struktur yang bernama organ, melainkan berada dalam keadaan suspensi dalam suatu cairan. Dengan demikian, darah dapat dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama adalah unsur yang berbentuk atau figuratif, yang dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Bagian kedua adalah unsur tidak berbentuk atau non-figuratif. Dinamakan demikian karena bagian ini tidak dapat dilihat secara kasat mata dengan bantuan alat apapun. Kehadiran unsur ini hanya dapat diketahui secara kimia. Dengan demikian, dapatlah dikatakan, bahwa bagian ini terdiri atas berbagai bahan yang terlarut didalan cairan darah.

2.1.1 Volume Darah
Volume darah pada orang dewasa sehat ditentukan oleh jenis kelamin. Volume darah pada laki – laki dewasa adalah 5 liter, sedangkan pada perempuan dewasa agak lebih rendah, yaitu 4,5 liter. Nilai ini mutlak, karena ditentukan dua hal. Pertama, ada keseimbangan antara ruang intra pembuluh darah ( ruang intravaskuler) dengan ruang anatarsel. Meskipun secara anatomis sistem pembuluh darah adalah ruang tertutup bila dilihat secara mikroskopis, ada celah diantara sel – sel, yang dapat dilalui cairan. Kedua, nilai tersebut tergantung kepada cara pengukuran. Pengukuran volume darah umumnya didasarkan atas cara pengenceran. Suatu senyawa yang tidk diolah oleh sel – sel tubuh dan mudah dikeluarkan melalui kencing setelah beberapa waktu, disuntikkan dalam jumlah dan konsentrasi tertentu kedalam pembuluh darah balik. Beberapa menit kemudian, setelah dianggap bahwa senyawa telah tersebar rata diseluruh ruang pembuluh darah, diambil contoh darah dari pembuluh balik ditempat yang berbeda. Konsentrasi senyawa tersebut didalam darah diukur.

2.1.2 Fungsi Darah
Secara umum fungsi darah ialah sebagai berikut :
1.    Alat transpor makanan, yang diserap dari saluran cerna dan diedarkan keseluruh tubuh.
2.    Alat transport O2, yang diambil dari paru – paru atau insang untuk dibawa keseluruh tubuh.
3.    Alat transport bahan buangan dari kejaringan kealat – alat ekskresi seperti paru – paru (gas), ginjal dan kulit (bahan terlarut dalam air) dan hati untuk diteruskan keempedu dan saluran cerna sebagai tinja (untuk bahan yang sukar larut dalam air).
4.    Alat transport antar jaringan dari bahan – bahan yang diperlukan oleh suatu jaringan lain. Hal ini tampak jelas, misalnya dalam transpor lipoprotein seperti lipoprotein densitas tinggi.
5.    Mempertahankan keseimbangan keseimbangan dinamis (homeostasis) dalam tubuh, termasuk didalamnya ialah mempertahankan suhu tubuh, mengatur keseimbangan asam – basa sehingga pH darah dan cairan tubuh tetap dalam keadaan yang seharusnya.
6.    Mempertahankan tubuh dari agresi benda atau senyawa asing yang umumnya selalu dianggap punya potensi menimbulkan ancaman.

Dengan demikian, secara garis besar dapat dikatakan, bahwa fungsi darah ialah sebagai sarana transpor, alat homeostasis dan alat pertahanan. Ketiga fungsi tersebut dijalankan dalam berbagai bentuk dan cara.

Selain itu tugas pokok dari pada darah ialah membantu pernapasan. Darah mengambil zat asam yang dihisap oleh paru – paru waktu menarik napas. Kemudian membawa dan membagi – bagikannya keseluruh jaringan tubuh. Zat asam itu diserap oleh permukaan sel darah merah. Dengan zat asam itu sel – sel tubuh mengubah makanan menjadi tenaga yang menentukan pertumbuhan dan kegiatan tubuh. Setelah itu darah mengumpulkan kotoran yang tak berguna lagi bagi tubuh dan membawanya keparu – paru. Kotoran itu kemudian dibuang keluar waktu menghembuskan nafas.


2.2 Pengertian Golongan Darah
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
  • Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
  • Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif
  • Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
  • Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia. Ilmuwan Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

2.3 Keanekaragaman Sistem Golongan Darah
Pada manusia dikenal berbagai macam sistem golongan darah. Yang paling diketahui dan memiliki arti paling penting adalah sistem golongan darah ABO. Penemuan keanekaragaman sistem golongan darah ini selanjutnya memacu penemuan sistem golongan darah lain.

Mengingat keterbatasan tempat dan juga pertimbangan kepentingannya secara medis, pada bagian ini tidak akan dibahas semua sistem penggolongan darah yang sekarang telah diketahui. Uraian akan lebih ditekankan pada sistem golongan darah ABO dan Rhesus.
a.    Sistem Golongan Darah ABO
Sistem golongan darah ABO merupakan satu sistem keanekaragaman yang pertama kali diketahui pada manusia. Dengan teknik imunologis, sistem yang pertama kali dikemukakan oleh Karl Landsteiner pada awal abad ini ternyata memegang peran penting dalam kajian keanekaragaman pada manusia. Disamping itu, sebagai petanda genetik, golongan darah juga sangat penting secara medis, khususnya dalam transfusi darah.

Sebagai petanda genetik yang memiliki keanekaragaman, sistem golongan darah ini terdiri atas fenotip A, B, AB dan O. Masing – masing fenotip ditentukan oleh antigen golongan darah yang dapat ditemui dipermukaan sel darah merah. Sel darah merah yang dapat ditemui dipermukaan sel darah merah. Sel darah merah yang mengandung antigen A menyebabkan timbulnya golongan darah B, antigen A dan B menghasilkan golongan darah AB, dan tidak adanya antigen menghasilkan golongan darah O.
Yang menarik dalam sistem golongan darah ini adalah adanya antibodi alami dalam serum setiap individu. Dala serum individu golongan A terdapat anti B, individu golongan B terdapat anti A, individu golongan AB tidak terdapat anti apapun dan individu golongan O terdapat anti A dan anti B.

Pada dasarnya golongan darah ini dapat ditentukan secara imnologis. Dalam hal ini golongan A ditentukan dengan adanya aglutinasi pada sel darah merah yang direaksikan dengan antibodi A. Dengan cara yang sama, golongan darah B ditentukan berdasarkan adanya aglutinasi dengan antibodi B. Golongan darah AB ditentukan berdasarkan atas adanya aglutinasi dengan antibodi A dan B serta yang terakhir golongan darah O yang ditentukan atas tidak adanya aglutinasi dengan ketiga jenis antibodi.

Ditnjau dari segi genetiknya, sistem golongan darah ABO diwariskan secara autosom kedominan. Dengan pewarisan senacam ini ekspresi gena yang terdapat pada kromosom homolog masing – masing akan menghasilkan protein yang selanjutnya berperan sebagai penentu golongan darah. Pemeriksaan terhadap antigen sistem golongan darah ini menunjukkan bahwa gugus penentu antigeniknya adalah gugus hidrat penentu antigeniknya adalah gugus hidrat arang pada molekul mukopolisakarida (glikoprotein). Ternyata semua glikoprotein antigen golongan darah ABO memiliki struktur dasar yang serupa. Perbedaannya hanya terlihat pada gugus hidrat arang yang ditambahkan pada senyawa prazat (prekursor)nya.

Untuk menjadi antigen golongan darah tertentu, senyawa prazat mengalami perubahan bertingkat karena pengaruh produk gena – gena tertentu, yaitu gena H, A, B dan O. Senyawa prazat yang berupa mukopolisakarida oleh produk gena H akan diubah menjadi senyawa H ini oleh produk gena A atau B akan diubah menjadi antigen A atau B dan sebagian senyawa H yang lain tetap tidak mengalami perubahan. Gena O yang bersifat amorfik tidak mempengaruhi perubahan senyawa H sehingga pada individu golongan O, antigen H terdapat dalam kadar yang tinggi.

Ekspresi gena A dan B tampaknya tergantung pada kerja gena H. Kebanyakan individu bersifat homosigot untuk gena H (HH). Alel gena H, yaitu h, yang bersifat jarang, menunjukkan gena amorfik sehingga individu bergenotip hh sangat jarang dijumpai.

b.    Sistem Golongan Darah Rhesus
Disamping golongan darah ABO, golongan darah Rhesus (Rh) sangat penting dalam transfusi darah. Hal ini disebabkan karena adanya individu yang memiliki fenotif Rh positif dan Rh negatif. Darah seseorang digolongkan Rh positif dan Rh negatif tergantung pada ada tidaknya antigen Rh (antigen D) pada membran sel darah merahnya. Ada tidaknya antigen D ditentukan dengan uji aglutinasi sel darah merah menggunakan anti-D.

Semua individu Rh negatif biasanya tidak mengandung anti-D dan tampaknya tidak ada senyawa alami yang menyerupai antigen-D, sebab bila individu Rh negatif memiliki anti-D, ia pernah kemasukan sel darah merah Rh positif. Sel darah merah Rh positif dapat masuk kedalam sirkulasi individu Rh negatif melalui beberapa cara. Pertama, transfusi darah dan donor Rh positif kependerita Rh negatif. Kedua, masuknya sel darah merah Rh positif dari janin melalui tembuni kesirkulasi darah ibu Rh negatif negatif pada saat melahirkan atau akhir masa kehamilan. Apapun caranya, masuknya sel darah merah Rh positif kedalam sirkulasi darah Rh negatif akan merangsang timbulnya anti-D. Yang perlu diingat adalah bahwa anti-D ini tidak berbahaya bagi sel darah merah individu yang bersangkutan, tetapi dapat menimbulkan persoalan pada kehamilan atau transfusi.

Selain antigen D, dalam sistem golongan darah Rhesus ternyata terdapat antigen lain yaitu antigen C dan E. Antigen – antigen ini ditentukan oleh gena yang terkait satu sama lain dalam satu kromosom. Alelnya adalah C dan c, dan d serta E dan e. Alel ini bersifat dapat diwariskan dan berdasarkan teori Fisher-Race, pewarisannya ditentukan oleh pasangan tiga gena tersebut.
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B.
Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Darah adalah salah stu bagian tubuh yang paling mendapat perhatian dan penghargaan yang tinggi. Demikian tinggi penghargaan tersebut, sehingga darah seringkali dihubungkan dengan berbagai hal yang sebenarnya diluar fungsi darah itu sendiri. Berbagai ungkapan seperti “darah daging” , “pertalian darah”, tanah tumpah darah”, “darah biru” , “darah muda”, dan “darah mendidih” yang digunakan dalam percakapan. Hal ini betapa menunjukkan tingginya nilai darah pada pandangan manusia. Lebih dai itu, acap kali pula darah tidak hanya digunakan sekedar dalam ungkapan, tetapi secara nyata untuk mengukuhkan sesuatu yang bersifat sakral. Pada berbagai suku bangsa yang sederhana, ada upacara yang sedikit melukai tubuh untuk meneteskan darah sebagai ungkapan prasetnya terhadap nilai atau kesepakatan tertentu, bahkan menunjukkan kepatuhan yang tidak diragukan lagi kepada seseorang tokoh panutan. Dipihak lain, darah juga melambangkan semangat hidup dan kemudaan. Hal ini juga dijumpai tidak hanya dalam sekedar ungkapan, tetapi juga dalam bentuk tindakan. Dalam pengobatan lama ada tindakan bekam, yaitu melukai kulit untuk mengeluarkan darah yang dianggap kotor, dalam usaha mengobati penyakit. Bahkan dalam praktiknya, diabad pertengahan masehi, orang sudah melakukan transfusi darah untuk tujuan mempermudah (rejuvenilisasi) tubuh. Tidak jarang, untuk tujuan tersebut nyawa manusia lain dikorbankan.
Darah umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang kental, berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam suatu ruang tertutup yang dinamai sebagai sistem pembuluh darah. Uraian yang demikian tentang darah lebih bersifat deskriptif, yang bersifat menguraikan secara analitis tetapi ringkas tentang hakikat sesuatu yang didefinisikan tersebut. Dalam uraian tentang darah tersebut misalnya, tidak terlihat sifat dan fungsi darah.
Darah, seperti yang telah didefinisikan dan yang dapat dilihat, adalah suatu cairan tubuh yang kental dan bewarna merah, kedua sifat utama ini, yaitu warna merah dan kenta, membedakan darah dari cairan tubuh yang lain. Kekentalan ini disebabkan oleh banyaknya senyawa dengan berbagai macam berat molekul, dari yang kecil sampai yang besar seperti protein, yang terlarut dalam darah. Warna merah, yang memberi ciri yang sangat khas bagi darah, disebabkan oleh adanya senyawa yang berwarna merah dalam sel – sel darah merah (SDM) yang tersuspensi dalam darah. Dengan adanya senyawa dengan berbagai macam ukuran molekul yang terlarut tersebut, ditambah dengan suspensi sel, baik SDM  maupun sel – sel darah yang lain, darah pun menjadi cairan dengan massa jenis dan kekentalan (viskositas) yang lebih besar dari pada air. Massa jenis darah biasanya antara 1,054 – 1,060. Cairan darah yang telah terpisah dari sel – sel darah, yaitu plasma atau serum mempunyai massa jenis antara 1,024 – 1,028.
Sedangkan untuk memahami fungsi darah, kita bandingkan keadaan makhluk bersel satu dengan makhluk bersel banyak (metazoa). Pada mkhluk bersel satu, baik prokaryot maupun eukaryot, segala sesuatu yang menyangkut kehidupan sel tersebut harus dilakukan oleh sel itu sendiri. Demikianlah, makhluk sel tunggal mencari sendiri makanannya, mengolah sendiri makanan tersebut dan mengeluarkan sendiri hasil olahan yang tidak diperlukan (ekskreta) kelingkungan. Bila lingkungan sel tersebut tidak mendukung kehidupan, sel tunggal tersebut harus mengusahakan segala daya, apakh itu berupa pindah tempat atau melawan ancaman dari lingkungan. Selain itu, sel tunggal itu pulalah yang bertanggung jawab atas kelestarian diri dan spesiennya, baik dengan cara pembelahan, pertunasan ataupun dengan cara konjugasi dengan sel tunggal lain yang sejenis perkawinan.
Sebaliknya, pada makhluk bersel banyak, betapun sederhana metazoa tersebut sudah ada pembagian kerja atau organisasi. Pada metazoa, akan selalu ada sel yang tidak dapat secara langsung memperoleh makanan dari lingkungannya. Demikian pula, tidak semua sel mampu membuang langsung kedunia luar hasil olahan yang tidak berguna, apalagi berbahaya. Apabila ada bahaya yang mengancam, semua sel membentuk organisme tersebut harus secara bersama – sama mengatasinya, misalnya dengan menghindarkan diri dengan cara berpindah ketempat lain


DAFTAR PUSTAKA
·      Biokimia darah / H. Mohammad Sadikin. – Jakarta : Widya Medika, 2001.
·      Buku saku ilmu kebidanan / Thomas Rabe ; alih bahasa, Ida Bagus Gde Manuaba, Ida Bagus Gde Fajar manuaba, Ida Ayu Chandranita Manuaba ; editor edisi bahasa Indonesia, Anna P. Bani, Desy Limanjaya, Natalia Susi. – Jakarta : Hipokrates, 2002.
·      Bodmer, W. F., Cavalli-Sforza, L. L 1978. Genetics, Evolution, and Man. W. H. Freeman and Company, San Fransisco.
·      Burns, G. W., Buttino, P. J. 1998 the science of genetics. Sixth ed., Macmillan Publishing Company , New York, Collier Macmillan Publiher.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar